Views: 13
Al-Ikhlas dan Ketunggalan: Tafsir Ulama, Filsuf, dan Sufi
Satu surah, satu Tuhan, satu jalan kesadaran dari ilmu, akal, hingga cinta yang menyatu dalam keheningan jiwa
Pengantar
Surah Al-Ikhlas ibarat permata tauhid yang kecil dari luar, namun memantulkan cahaya keesaan dari segala sisi ilmu. Ia bisa dibaca oleh siapa saja, tetapi hanya sebagian yang mampu melihat kedalaman maknanya.
Para ulama tafsir menjadikannya pondasi iman, filsuf Islam menjadikannya sumber logika keberadaan, dan para sufi menjadikannya jalan menuju fana’. Tiga jalur ini—syariat, filsafat, dan tasawuf—bermuara pada satu cahaya: “Ahad.”
1. Ulama Tafsir: Al-Ikhlas sebagai Inti Akidah
Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, Surah Al-Ikhlas mencakup sepertiga isi Al-Qur’an karena ia mengandung tauhid, yang merupakan pondasi utama. Para ulama menafsirkan keempat ayat sebagai berikut:
- “Qul huwa Allahu Ahad” → Allah adalah Esa, satu secara mutlak, tidak terbagi, tidak disamai.
- “Allahush Shamad” → Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu, tidak membutuhkan makhluk.
- “Lam yalid wa lam yûlad” → Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, menyangkal semua bentuk antropomorfisme.
- “Wa lam yakun lahu kufuwan ahad” → Tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya, baik zat, sifat, maupun perbuatan.
Dalam pandangan tafsir, Al-Ikhlas adalah penjernih akidah, penolak syirik, dan penegas kemurnian iman.
2. Para Filsuf: Logika Tunggal, Wujud Esa
Ibnu Sina menyebut Tuhan sebagai Wujûd Wâjib—wujud yang niscaya, tidak membutuhkan sebab, dan tidak bisa tiada. Dalam Surah Al-Ikhlas, kalimat “Ahad” dan “Shamad” menjadi dasar dari metafisika Islam.
Mulla Shadra, tokoh filsafat Hikmah, menambahkan bahwa:
“Seluruh wujud berasal dari satu realitas hakiki (Allah), dan yang lainnya hanyalah pancaran (tajalli) dari-Nya.”
Maka ayat terakhir:
“Wa lam yakun lahu kufuwan ahad”
… adalah konfirmasi mutlak atas keunikan dan ketaktersaingan eksistensi Allah. Filsafat pun bertekuk lutut pada cahaya “Ahad.”
3. Para Sufi: Cinta yang Menyatu dan Ego yang Menyepi
Para sufi memandang Surah Al-Ikhlas bukan hanya sebagai surah, tapi sebagai jalan pulang ke asal.
Imam Junaid berkata:
“Tauhid adalah ketika tiada selain Allah di dalam hatimu.”
Al-Hallaj menyebut “Ahad” sebagai pemusnah diri, karena tiada dua dalam keesaan mutlak. Saat “Aku” masih berkata, berarti masih ada dualitas. Tapi jika ego sudah tiada, maka:
“Yang menyebut adalah Dia, yang disebut adalah Dia, dan yang mendengar pun adalah Dia.”
Inilah maqam kesatuan hakiki, saat tidak lagi ada jarak antara hamba dan Tuhan, sebab yang bekerja hanyalah Allah sendiri.
4. Ayat yang Membuka Rahasia: QS. Ash-Shaffat: 96
Sebagai penguat makrifat, Al-Qur’an juga menegaskan dalam ayat lain:
“Wallāhu khalaqakum wa mā ta‘malūn”
(Dan Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat)
(QS. Ash-Shaffat: 96)
Artinya:
- Bukan hanya kita diciptakan-Nya,
- Tapi setiap gerak, amal, dan kata-kata pun adalah ciptaan-Nya.
Ayat ini adalah landasan dari tauhid af‘āl—bahwa tiada pelaku hakiki kecuali Allah. Maka ketika seseorang berkata “aku berzikir”, sejatinya Allah-lah yang menyebut Diri-Nya melalui hamba-Nya.
5. Tiga Jalan, Satu Tujuan: Menyatu dalam “Ahad”
| Jalur | Fokus Pemahaman | Tujuan |
|---|---|---|
| Tafsir (Syariat) | Menjaga akidah dari syirik | Iman murni |
| Filsafat (Akal) | Memahami Wujud Tunggal | Keyakinan rasional |
| Tasawuf (Batin) | Meleburkan ego dan menyatu | Ma’rifat dan cinta |
Semua jalan ini bermuara pada satu kesadaran:
“Tiada yang lain kecuali Dia.”
Penutup: Saat Segala yang Dua Telah Menyatu
Jika engkau masih merasa sedang menyebut-Nya, berarti masih ada “dua”.
Tapi jika zikirmu hanyalah gema dari-Nya, dan hatimu hanya ruang kosong untuk kehadiran-Nya, maka:
“Yang menyebut adalah Dia, yang disebut pun Dia, dan yang mendengar pun Dia.”
Dan itulah tingkatan keesaan tertinggi, saat Surah Al-Ikhlas tidak hanya dibaca, tapi dihidupi dan dijalani dalam setiap napas, langkah, dan diam.
✨ Hikmah Makrifat Hari Ini:
“Dia menciptakan dirimu, dan Dia pula yang bergerak di dalammu. Maka, jika engkau menyebut-Nya, sejatinya Dia sedang menyebut Diri-Nya melalui dirimu.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)
