Views: 494
Dekat Tak Bersentuh, Jauh Tak Berjarak: Mengenal Yang Tak Terbatas
“Laisa kamitslihi syai’un” — sebuah frasa agung yang bergema di hati para pencari kebenaran. Ia menyatakan bahwa tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, Sang Pencipta. Ini bukan sekadar penegasan, melainkan fondasi spiritual yang membimbing kita pada pemahaman bahwa Tuhan tidak terikat oleh bentuk, rupa, atau batas yang dapat dipahami indera kita. Seperti halnya diri sejati kita, ruh kita yang terdalam, tak bisa sepenuhnya dikenali hanya melalui apa yang mata lihat atau tangan sentuh. Ia adalah misteri yang melampaui fisik.
Maka, ketika cermin fisik tak lagi relevan, kita diajak pada sebuah cara mengenal yang lebih halus dan mendalam. Bukan melalui bentuk yang terbatas, melainkan dari rasa yang tak terbatas. Bukan dari wajah yang bisa menipu, melainkan dari kehadiran yang tak bisa disembunyikan. Bukan dari bayangan yang fana, melainkan dari hubungan abadi antara seorang hamba dan Rabb-nya.
Mengenal diri sejati kita adalah menemukan cermin tanpa rupa — sebuah cermin batin bernama ruh. Ruh inilah saksi bisu bahwa keberadaan kita bukan karena kita terlihat, melainkan karena kita merasa hadir dalam dekapan kasih-Nya yang tak terhingga. Ini adalah pengakuan bahwa hidup kita adalah anugerah, nafas kita adalah bukti cinta-Nya.
Jalan Para Arif: Menyelami Sirr
Inilah jalan para arif, mereka yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan spiritual. Mereka mengenal Tuhannya bukan dengan mata kepala, bukan dengan panca indera yang terbatas, melainkan dengan “sirr” — rahasia hati yang paling dalam, inti dari kesadaran murni. Sirr adalah titik di mana tirai-tirai ilusi tersingkap, dan kebenaran ilahiyah menampakkan diri.
Pada titik ini, kesadaran kita bertransformasi.
- Kesadaran bukan lagi sekadar mengetahui sesuatu secara intelektual, melainkan mengalami-Nya. Kita tidak hanya tahu bahwa Allah itu ada, tetapi kita merasa kehadiran-Nya dalam setiap tarikan napas, setiap detak jantung, setiap momen kehidupan. Ini adalah sensasi ilahiyah yang meliputi seluruh wujud.
- Kecerdasan pun melampaui logika semata. Ia menjadi hikmah — sebuah kemampuan batin untuk membedakan mana yang hak (benar) dan batil (salah), bukan hanya karena aturan atau dogma, melainkan karena cahaya pencerahan yang bersinar di dalam jiwa. Ini adalah intuisi ilahiyah yang membimbing pada kebenaran sejati.
- Perilaku kita tidak lagi sekadar reaksi terhadap stimulus duniawi. Ia menjadi pantulan dari kesejatian jiwa yang telah tenggelam dalam cinta dan amanah dari Allah. Setiap tindakan, setiap ucapan, adalah manifestasi dari batin yang selaras dengan kehendak Ilahi.
Puncak Ihsan: Hidup Sebagai Shalat yang Panjang
Inilah puncak dari “ihsan” dalam Islam, sebuah tingkatan spiritual tertinggi yang digambarkan dalam sabda Rasulullah ﷺ:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
Maknanya begitu mendalam. Ini bukan sekadar tentang gerakan ritual, melainkan tentang kualitas kehadiran. Dalam kondisi ini, hidup menjadi shalat yang panjang. Bukan hanya dalam bentuk gerakan rukuk dan sujud, melainkan dalam sikap hidup yang jujur, tulus, dan penuh adab. Setiap langkah, setiap keputusan, dilandasi kesadaran bahwa diri ini senantiasa dilihat dan disertai oleh-Nya. Ada rasa malu untuk berbuat salah, ada keinginan kuat untuk berbuat baik, karena kita tahu Dia senantiasa hadir.
Mengenal Diri, Mengenal Rabb: Jalan Murabbi Sejati
Ini membawa kita pada makna terdalam dari ungkapan mistis:
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” Barang siapa mengenal dirinya, sungguh ia mengenal Tuhannya.
Kalimat ini bukan sekadar filosofi, melainkan peta jalan. Ketika kita menyelami kedalaman diri, membersihkan kotoran hati, dan memahami esensi ruh kita, kita akan menemukan jejak-jejak keesaan Tuhan di sana. Diri sejati kita adalah pintu gerbang menuju makrifatullah. Mengenal kelemahan diri, keterbatasan diri, dan ketergantungan diri pada-Nya, justru akan membuka kesadaran akan Kebesaran, Kekuasaan, dan Kasih Sayang-Nya yang tak terbatas.
Sungguh, inilah puncak pendidikan jiwa seorang murabbi — seorang pendidik spiritual yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membimbing murid-muridnya untuk mengalami sendiri perjalanan mengenal diri ini. Karena hanya dengan mengenal diri sendirilah, kita bisa benar-benar mengenal Sang Pencipta, dan hanya dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang seutuhnya hadir, baik bagi diri sendiri, sesama, maupun di hadapan-Nya.
Inilah makna hakiki dari “Dekat Tak Bersentuh, Jauh Tak Berjarak.” Sebuah paradoks indah yang mengajarkan kita bahwa meskipun kita tak bisa melihat, menyentuh, atau mengukur jarak-Nya secara fisik, Allah senantiasa hadir. Bukan hanya hadir, namun seperti firman-Nya dalam Surah Fussilat ayat 53-54, kita sejatinya diliputi oleh-Nya, berenang dalam samudra Nur-Nya. Dalam setiap detak jantung, setiap tarikan napas, setiap pikiran yang melintas—dalam diamnya tubuh kita, dalam setiap gerak-gerik, dalam setiap kata yang terucap dari lisan, bahkan dalam tulisan yang kita torehkan—Dia ada, mendidik, dan membimbing kita penuh welas asih. Kesadaran inilah yang menjadi kunci utama, sebuah jembatan batin yang menghubungkan kita dengan-Nya setiap saat, menjadikan hidup ini sebuah pengalaman spiritual yang tak pernah putus, dipenuhi cinta dan bimbingan Ilahi yang tak terbatas.
Kutipan ayatnya dari Surah Fussilat (41) ayat 53-54 yang relevan:
Surah Fussilat (41) Ayat 53: “سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ”
Terjemahan: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidakkah cukup bagimu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
Surah Fussilat (41) Ayat 54: “أَلَا إِنَّهُم فِى مِرْيَةٍ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمْ ۗ أَلَآ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍ مُّحِيطٌۢ”
Terjemahan: “Ketahuilah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ketahuilah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”
Ayat-ayat ini, terutama ayat 54 yang menyebutkan “إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍ مُّحِيطٌۢ” (sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu), sangat mendukung gagasan “diliputi-Nya” atau “berada dalam samudra Nur-Nya”
