Views: 25
Filsafat Al-Ikhlas: Ketika Tuhan Adalah Satu, dan Ego Menyepi
Menelusuri makna keesaan Ilahi dalam Surah Al-Ikhlas melalui kacamata filsafat Islam dan perenungan eksistensial
Pengantar
Surah Al-Ikhlas adalah pelajaran tauhid yang sederhana, namun mengandung kedalaman metafisika yang luar biasa. Bagi para filsuf dan pencari makna hidup, ayat-ayatnya adalah mantra kesadaran, yang membongkar ilusi dualitas dan menyisakan satu realitas sejati: Allah Yang Esa.
Judul ini mengajak kita merenungkan bagaimana filsafat Islam, khususnya metafisika wujud dan keberadaan, menemukan dirinya bercermin dalam Surah Al-Ikhlas. Di titik itulah, ego manusia mulai menyepi, dan kesadaran akan Tuhan satu-satunya yang nyata mulai menampakkan wajahnya.
1. Tauhid dalam Bahasa Filsafat: Wujud Wajib
Dalam kerangka filsafat Islam, terutama yang dibangun oleh Ibnu Sina, Tuhan adalah Wujud Wajib (Necessary Being)—artinya, satu-satunya keberadaan yang tidak bergantung pada apapun.
Surah Al-Ikhlas membuka pernyataan tauhid dengan:
“Qul huwa Allahu Ahad” – Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa
Di sini, “Ahad” bukan sekadar “satu”, melainkan tunggal secara mutlak, tanpa bagian, tanpa penyerupaan. Ini adalah definisi metafisika paling tinggi tentang Tuhan dalam Islam.
2. “Shamad”: Simbol Ketidaktergantungan Mutlak
Ayat berikutnya:
“Allahush Shamad” – Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu
Dalam filsafat wujud, hanya Allah yang berdiri sendiri, sedangkan segala yang lain adalah mungkin ada (mumkinul wujud)—tercipta, terbatas, dan selalu membutuhkan sebab.
Mulla Shadra, filsuf besar dari mazhab Hikmah, menjelaskan bahwa:
“Shamad adalah simbol mutlak dari eksistensi murni. Tidak ada ruang atau waktu yang membatasi-Nya. Dialah realitas itu sendiri.”
Di sini, Al-Ikhlas tidak hanya berbicara tentang keyakinan, tetapi mengajak akal untuk tunduk kepada satu sumber wujud, dan meninggalkan kebingungan ontologis.
3. Ego: Ilusi yang Terkuak oleh Keesaan
Dalam perenungan eksistensial, manusia sering mendewakan “aku”. Padahal, ego adalah konstruksi pikiran yang bisa rapuh, berubah, bahkan hilang.
Ayat:
“Lam yalid wa lam yûlad” – Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan
… bukan hanya penolakan terhadap sifat jasmani Tuhan, tetapi juga pemutus terhadap rantai ilusi eksistensi turunan.
Filsafat eksistensial Islam memandang bahwa satu-satunya yang benar-benar “ada” tanpa sebab adalah Allah. Ego manusia hanyalah bayangan dari cermin wujud Ilahi. Maka tauhid sejati adalah ketika ego menyepi, dan kesadaran menjadi ruang hening untuk menyaksikan kehadiran Allah.
4. Wahdatul Wujud: Segalanya dari Satu, dan Kembali ke Satu
Para sufi-filsuf seperti Ibnu ‘Arabi dan Mulla Shadra memperkenalkan konsep Wahdatul Wujud—Kesatuan Keberadaan. Dalam pandangan ini:
- Segala sesuatu muncul dari satu wujud hakiki (Allah),
- Lalu muncul sebagai bentuk-bentuk (makhluk),
- Dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Ayat terakhir:
“Wa lam yakun lahu kufuwan ahad” – Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya
… adalah penegasan bahwa realitas Allah tidak dapat dibandingkan, disetarakan, atau dijangkau dengan logika manusia biasa. Ia adalah realitas absolut, dan segala selain-Nya adalah manifestasi ciptaan-Nya.
5. Cermin Diri: Ketika Kesadaran Menyaksikan Kesatuan
Ketika hati benar-benar merenungi Surah Al-Ikhlas, maka yang tersisa hanyalah kesadaran murni, bukan pendapat, bukan kata, bukan pemikiran. Inilah titik “fanā” dalam filsafat tasawuf—saat diri melebur, dan hanya Ahad yang hadir.
Kata “Ahad” menjadi mantra sunyi yang menghapus hiruk-pikuk ego.
Kata “Shamad” mengingatkan bahwa kita sepenuhnya butuh Allah.
Kalimat “Lam yalid wa lam yûlad” menghapus ilusi waktu dan garis keturunan.
Kalimat “Wa lam yakun lahu kufuwan ahad” menutup ruang banding, dan membuka keheningan mutlak.
Penutup: Filsafat yang Menyepi dalam Tauhid
Di titik akhir perenungan, kita menyadari bahwa Surah Al-Ikhlas adalah filsafat dalam bentuk wahyu.
Ia bukan sekadar menjawab pertanyaan “Siapa Tuhan?”, tetapi juga membongkar pertanyaan “Siapa aku?”
Dan jawabannya adalah:
“Aku hanyalah bayangan, dan hanya Allah-lah yang nyata.”
✨ Hikmah Hari Ini:
“Ketika engkau menyaksikan keesaan Tuhan dalam Surah Al-Ikhlas, saat itu juga ego mulai menyepi, dan jiwamu kembali kepada cahaya yang satu.”
