Kalamullah Itu Cahaya, Bukan Beban

Views: 4

Kalamullah Itu Cahaya, Bukan Beban: Saat Umat Memperdebatkan Harga Mushaf, Tapi Melupakan Nilai Wahyu

“Sesungguhnya ini adalah Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara, tidak disentuh kecuali oleh hamba-hamba yang disucikan.”
QS. Al-Waqi’ah: 77–79

🌿 Mengapa Kalamullah Harus Dibumikan?

Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca dan dihafal. Ia adalah cahaya hidup yang harus ditulis, ditanam dalam hati, dan dibumikan dalam perilaku. Menulis Al-Qur’an bukan hal baru; para sahabat Nabi dahulu pun menulis wahyu dengan tangan, air mata, dan ketundukan jiwa.

Kini, program Menulis Al-Qur’an dengan Metode Follow The Line hadir sebagai langkah konkret untuk membumikan Kalamullah melalui pendidikan karakter. Bukan hanya pelajar yang dilibatkan, tetapi juga keluarga: melalui Mushaf Kolaborasi Pelajar Nusantara dan Keluarga Indonesia Mengaji menuju Negeri Baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur.

Namun, justru di sinilah ironi terjadi.


💸 Ironi: Ketika Rezeki Terbuka Luas, Tapi Hati Tertutup

Program ini sering terkendala bukan karena kurangnya niat, tetapi karena perdebatan soal biaya. Harga satu mushaf kolaborasi Rp350.000. Harga e-Book Juz Amma Rp10.000. Namun banyak yang merasa berat.

Padahal untuk pulsa, makan di luar, atau sekadar belanja daring, jumlah itu terasa ringan.
Kenapa saat untuk Kalamullah, justru jadi beban?

Kita lupa, Allah tidak pernah pelit dengan rezeki. Yang terbatas bukan karunia-Nya, tapi kesadaran kita. Kita terlalu takut kekurangan, padahal Allah menjanjikan:

“Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki terbaik.”
(QS. Saba: 39)


🧠 Umat Perlu Disadarkan: Ini Bukan Tentang Uang, Tapi Tentang Kesempatan

Menulis Al-Qur’an adalah ladang amal. Setiap huruf yang ditulis, setiap garis yang diikuti, adalah saksi di hari akhir.
Saat anak-anak kita diberi kehormatan untuk menulis Kalamullah, mereka sesungguhnya sedang menulis jalan hidup mereka sendiri bersama wahyu.

Bukan mushaf yang butuh dicetak. Kitalah yang butuh mushaf itu untuk membentuk generasi Qur’ani.


🤲 Membangun Kesadaran Kolektif: Dari Individual ke Komunal

Solusi bukan pada membebani orang per orang, tapi membangun kesadaran:

  • Wakaf mushaf bersama oleh keluarga besar
  • Donasi kolektif wali murid
  • Gerakan cinta Al-Qur’an sekolah
  • Crowdfunding mushaf berbasis komunitas

Karena Kalamullah bukan milik segelintir orang saleh, tapi milik seluruh umat.


Akhir Kata: Jangan Batasi Rezeki Allah dengan Logika Manusia

“Syaitan menjanjikan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 268)

Jangan pernah merasa rugi karena mengeluarkan harta untuk Kalamullah. Justru di situlah pintu rezeki, keberkahan, dan pertolongan-Nya terbuka.

Bersama kita bumikan Al-Qur’an, satu huruf, satu garis, satu keluarga, satu umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »